Minggu, 27 Januari 2013

Meningkatkan Produktivitas Bisnis Ayam Ras Pedaging

Sejak pertama kali dilaporkan tahun 1935, penemuan suatu strain ayam  sebagai cikal bakal ayam broiler (dikenal sebagai ayam ras pedaging ), agaknya sudah menjadi tren yang saling mengungguli antar satu penemuan dan penamuan lainnya. Penemuan-penemuan itu merupakan hasil penelitian bertahun-tahun dari para ahli pemrmuliaan  ternak dalam mencari dan menggabungkan berbagai keunggulan dari beberapa jenis ayam, seperti ayam hutan merah (galus galus, galus bankiva), dan ayam hutan ceton  (galus lavayetti), ayam hutan abu-abu  (galus soneratti),  dan ayam  hutan hijau  (galus varius, galus javanicus), dengan perkawinan silang dan seleksi pada tahun 1945 ditemukan strain ayam ras pedaging yang mampu mencapai berat 1 kg dalam waktu  minggu.  
Ayam hutan merah atau ayam jago (galus galus , galus bankiva)





Agaknya trend sepuluh tahunan menjadi catatan tersendiri bagi perkembangan strain ayam ras pedaging. Pada tahun 1955 ditemukan strain ayam baru yang berat badannya mencapai 1,27 kg. Penemuan ini juga disertai dengan perbaikan konversi pakannya. Jika pada tahun 1945 konversi pakannya 3,4 pada tahun 1955 menjadi 2,9, artinya untuk mencapai berat 1 kg ayam membutuhkan pakan sebanyak 2,9 kg.
Pada tahun 1965 kembali dirillis ayam ras pedaging yang mampu mencapai berat 1,72 kg. Sejak saat itu, berbagai perusahaan pembibitan seolah-olah berlomba menciptakan strai baru, dengan karakteristik cepatnya laju pertumbuhan dan membaiknya angka konversi pakan. Dengan penemuan transplantasi gen diperkirakan penemuan berbagai strai ayam ras pedaging dengan berbagai keunggulannya akan semakin cepat terwujud misalnya dengan penemuan strain transgenik. 
Perkembangan usaha peternakan ayam ras Indonesia, baik pedaging maupun petelur telah mengalami 5 tahapan perkembangan sebagai berikut :
1.      Tahap pengenalan (1950-1960), terjadi dengan adanya impor bibit ayam ras pedaging dan petelur. Pada tahap ini impor dilakukan hanya dengan tujuan sebagai kegemaran atau hobi.
2.      Tahap pengembangan (1960-1970) usaha peternakan ayam ras sudah mulai dimasyarakatkan sebagai komoditas penggerak pembangunan dan diperkenalkan sebagai Pilot Proyek Bimas Ayam (PPBA). Pada tahap ini pemeliharaan ayam ras sudah mulai dilaksanakan dalam skala rumah tangga.
3.      Tahap pertumbuhan atau investasi (1970-1980) ditandai dengan mulai berkembangnya iklim investasi di bidang usaha peternakan ayam ras pedaging dan petelur. Pada tahap ini perkembangannya sudah mulai menyebar sejak industry hulu (pembibitan, pabrik pakan ternak, dan obat-obatan), industry bududaya (pemeliharaan ayam ras pedaging dan petelur), industry hilir (rumah pemotongan ayam, industry pengolahan daging dan telur ayam), serta industry penunjang (asuransi, perbankan, transportasi).
4.      Tahap penataan (1980-1990) ditandai dengan keluarnya Keppres No. 50/1981 yang bertujuan mengatur skala usaha peternakan ayam ras. Sehingga tidak ada pertentangan antara peternak skala kecil dan besar. Selain itu, Keppres ini juga ditujukan untuk merestrukturisasi usaha dan stabilitas.
5.      Tahap ketangguhan (1990-sekarang) pengelolaan peternakan ayam ras pedaging dan petelur sudah diarahkan sebagai suatu industry agribisnis terpadu dan terintegrasi sejak hulu hingga ke hilir, termasuk pula sarana penunjangannya.
Dari sisi permintaan alam struktur konsumsi daging nasional, dari tahun ke tahun peranan daging ayam ras tercatat peningkatannya, dari 13% pada tahun 1970-an. Kemampuan daging ayam ras menggeser daging ruminansia (besar dan kecil) memperlihatkan kecenderungan pasar untuk lebih menyukai white meat daripada red meat. Ternyata penggeseran ini pun terjadi di tingkat Internasional. USDA (United States Department of Agriculture) mencatat bahwa pada tahun 1985-1993 laju kkonsumsi white meat asal ayam ras meningkat 3,5% per tahhun.
Tantangan Usaha Budi Daya Ayam Ras Pedaging yaitu meskipun potensi usaha sector budi daya ayam ras pedaging sangat menarik, sejumlah tantangan bias jadi penghambat usaha yang bias mengubah potensi keuntungan menjadi kerugian yang tidak kecil. Tantangan tersebut tidak perlu membuat calon investor yang berkeinginan untuk berinvestasi di sector budi daya ayam ras pedaging mengurungkan niat. Bahkan sebaliknya, menjadi penuntun untuk mencari jalan pemecahan masalah. Beberapa tantangan dan hambatan dalam usaha budi daya ayam ras pedaging sebagai berikut :
Ayam ras pedaging merupakan hasil berbagai perkawinan silang dan seleksi yang sangat rumit diikuti dengan upaya perbaikan manajemen pemeliharaan secara terus menerus. Akibatnya ayam ras pedaging bias disebut sebagai ternak yang “cengeng”. Kesalahan atau kealfaan dari segi manajemen peliharaan akan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Contohnya ayam ras pedaging lebih mudah terserang penyakit sehingga upaya pencegahan penyakit harus dilakukan secara teratur., dengan cara mengontrol kebersihan lingkungan kandang, melakukan vaksinasi untuk enyakit tertentu, serta memisahkan ayam yang terserang penyakit agar tidak menulari ayam lainnya. Pemberian pakan dengan kualitas yang lebih rendah dari semestinya, terutama saat pertumbuhan diperkirakan berada di titik maksimal, akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan. Akibat selanjutnya berta akhir ayam ras pedaging pada saat akan di jual lebih rendah dari yang diharapkan.
setelah mengetahui tantangan dan hambatan dalam beternak ayam ras pedaging 
calon peternak diharapkan mampu mencari jalan keluarnya

Harga daging ayam ras Indonesia sangat fluktuatif. Penyebabnya bermacam-macam terutama factor keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Biasanya menjelang Hari Raya Idul Fitri harga daging ayam ras mulai merangkak naik pada minggu kedua bulan Ramadhan dan akan mencapai puncak pada 2-3 hari menjelang hari raya. Namun, beberapa tahun belakangan ini perkiraan itu sering kali meleset akibat antisipasi yang keliru dari peternak. Misalnya, dua bulan menjelang lebaran sesuai dengan tren yang berlaku para peternak mulai memelihara ayam ras pedaging dengan harapan bias menjual ayam ras pedaging siap potong pada hari-hari menjelang lebaran dengan harga tinggi. Namun karena setiap peternak melakukan hal yang sama terjadi kelebihan penawaran di pasar. Akibatnya, harga ayam ras pedaging siap potong yang diperkirakan mencapai titik tertinggi ternyata malah turun Disamping itu perubahan harga ayam ras pedaging siap potong pun kadang-kadang sangat cepat. Sebagai contoh pada tanggal 7 Januari 2001 harga ayam ras pedaging siap potong (berat diatas 1,6 kg) di Jakarta Rp. 10.000 per kg, tetapi seminggu kemudian harganya turun menjadi Rp. 7.500 per kg atau penurunan harga sebesar 25%.
Sama halnya dengan ayam ras pedaging siap potong, harga sarana produksi seperti DOC(day old chick) atau ayam umur satu hari, pakan ternak, vaksin, dan obat-obatan juga mengalami fluktuasi yang bermuara pada keseimbangan penawaran dan permintaan di pasar. Terjadinya fluktuasi harga sarana produksi dan harga ayam ras pedaging siap potong memungkinkan peternak memperoleh keuntungan sekaligus menderita kerugian. Keuntungan yang tinggi akan diperoleh jika peternak memulai usahanya saat harga sarana produksi sedang berada di titik terendah, tetapi peternak bias menjual hasil usahanya saat harga sedang tinggi. Hal ini mungkin terjadi namun, kemungkinan sebaliknya pun bisa terjadi.
Penggunaan harus disesuaikan dengan penyakit yang
diderita ayam dan dosisnya harus sesuai dengan aturan pemakaian
Umumnya petrenak mandiri memasarkan hasil usaha petrnakannya ke pasar-pasar tradisional yang ada di sekitar tempat usahanya. Hal ini tentu dengan alasan untuk menghemat biaya transportasi. Dalam kondisi normal peternak tersebut akan mudah menjual ayam ras pedaging yang siap potong, tetapi dalam kondisi penawaran lebih tinggi dari permintaan , peternak akan mengalami kesulitan memasarkan produknya. Disinilah letak tidak adanya kepastian waktu jual hasil usaha yang bisa mengakibatkan peternak menjual murah ayam ras pedaging siap potong. Akibatnya peternak mengalami kerugian yang tidak sedikit. Menunggu perbaikan harga juga tidak banyak menolong mengingat ayam ras potong membutuhkan pakan lagi setiap harinya. Hal ini berarti pula adanya pengeluaran ekstra.
Usaha budi daya ayam ras pedaging merupakan slah satu usaha yang sudah sangat transparan sehingga margin keuntungannya sangat tipis yakni berkisar 5-10% dari setiap siklus produksinya (sekitar 2 bulan). Jika dilihat dari angka 5-10% mungkin masih lebih tinggi daripada bunga bank, tetapi dengan berbagai resiko yang dihadapi margin tesebut sangat kecil, terlebih lagi dibandingkan dengan ayam ras pedaging terserang ND yang bisa menyebabkan kematian ayam sampai 100%. Peternak tidak bisa mendapatkan modalnya kembali karena tidak ada yang bisa dijual.
Lebih dari separuh sarana produksi peternakan, misalnya vaksin, obat-obatan, feed supplement, bahan baku pakan (tepung ikan, jagung, atau bungkil kedelai) merupakan produk impor sehhingga dari waktu ke waktu kebutuhan terhadap barang ini semakin meningkat seiring dengan peningkatan produksi. Semakin dekatnya era perdagangan global akan mempersulit posisi Indonesia karena ketrgantungan akan produk impor masih sangat tinggi. Banayak produk perunggasan dari luar negeri akan bebas masuk ke Indonesia tanpa bisa dicegak dengan pajak impor dan aneka larangan lainnya.
Dengan memperhatikan berbagai tantangan diatas, peternak pemula yang berkeinginan untuk terjun dalam usaha peternakan yam ras pedaging dianjurkan untuk mengikuti program kemitraan. Dalam program ini peternak kecil (disebut plasma) cukup menyediakan kandang beserta peralatannya dan pekerja, sedangkan produksi ternak seperti bibit (DOC), pakan ternak, vaksin, feed supplement, dan obat obatan disediakan oleh mitra (disebut inti) yang biasanya merupakan perusahaan besar. Di sisi lain plasma diwajibkan menjual hasil produksi ayam ras pedagingnya kepada inti dengan harga yang sudah ditentukan. Berikut ini table perbandingan antara mengikuti program kemitraan menjadi peternak mandiri yang bisa dijadikan acuan atau bahan pertimbangan oleh para peternak pemula.
Faktor pembanding Program kemitraan Peternak mandiri
Modal Relatif sedikit karena peternak hanya menyediakan kandang, peralatan, dan tenaga kerja. Sedangkan sarana produksi peternakan (sapronak) ditanggung perusahaan inti Relatif lebih besar karena kandang, peralatan, tenaga kerja, dan sapronak harus disediakan sendiri
Bantuan teknis Diberikan perusahaan inti secara terencana Tidak ada keterikatan untuk pemberian bantuan teknis, kecuali bertanya kepada technical service dari tempat produk yang dibeli peternak
Aturan/kontrak tertentu Peternak terikat kontrak dengan perusahaan inti untuk menggunakan produk tertentu Bebas menggunakan produk perusahaan manapun
Munculnya inovasi Tidak diizinkan jika tidak sesuai dengan kontrak Peternak bebas menerapkan dan mencoba inovasinya sendiri
Harga jual sapronak Sudah diperhitungkan berdasarkan kontrak Sepenuhnya berdasarkan mekanisme pasar
Harga jual produk Sudah diperhitungkan berdasarkan kontrak Sepenuhnya berdasarkan mekanisme pasar
Bonus Ada perusahaan inti yang memberikan dengan nilai tertentu jika tercapai konversi pakan dan berat akhir yang lebih baik Tidak ada bonus
Penjualan produk Tanggung jawab perusahaan inti Diusahakan sendiri
Margin usaha Kecil, tetapi pasti karena seluruhnya sudah berdasarkan kontrak Karena berdasarkan mekanisme pasar, keuntungan dan kerugian tidak bisa diprediksi
Resiko kerugian Ditanggung bersama antara perusahaan inti dan plasma Ditanggung sendiri

Salah satu ilustrasi bagaimana seorang peternak mandiri menjadi lebih sukses secara finansial sebagai berikut. Pada tahun 1999 seorang peternak mampu memperoleh keuntungan bersih dari pemeliharaan 5.000 ekor ayam ras pedaging (6 siklus per tahun) sebesar lebih kurang Rp. 90.000.000. Pada saat dan kondisi yang sama, seorang peternak plasma hanya mampu mengantungi keuntungan bersih dan bonus sebesar Rp. 21.000.000. Padahal pada bulan Oktober 1999 harga ayam ras pedaging siap potong berada pada titik terendah yakni Rp. 3.500 per kg berat hidup. Pada waktu itu peternak mandiri mengalami kerugian sekitar Rp. 3.500 hingga Rp. 5.000 per ekor, sedangkan peternak plasma masih bisa meraih keuntungan sebesar Rp. 700 – Rp. 1.200 per ekor.
Keuntungan peternak mandiri bisa lebih besar karena diluar bulan Oktober 1999 harga ayam ras pedaging siap potong cukup tinggi dan keuntungan yang bisa diraih mencapai Rp. 6.000 per ekor, sedangkan keuntungan peternak plasma berada pada tingkat stabil Rp. 700 – Rp. 1.200 per ekor. Di sisi lain, pada saat yang sama peternak mandiri membutuhkan modal sekitar Rp.50.000.000 per siklus dan peternak plasma hanya sekitar Rp.5.000.000 karena sebagian besar biaya produksi berasal dari inti.
Komponen biaya
Persentase
DOC
Pakan
Operasional
a.       Sewa kandang
b.      Gaji anak kandang
c.       Obat, vaksin, vitamin
d.      Alas kandang, pemanas
e.       Lain-lain
25-30%
50-70%

2-4%
2-4%
3-5%
2-4%
4%
Biaya terbesar dari usaha peternakan ayam ras pedaging adalah biaya pakan, besarnya berkisar 60-70% dari biaya produksi secara keseluruhan. Di pasar, beredar banyak merek paka ayam ras pedaging yang didasarkan pada periode pertumbuhannya. Harganya pun sangat bervariasi, salah satu pertimbangan peternak pemula dalam memilih pakan ternak adalah harganya. Selisih sedikit saja, peternak bisa berganti merek. Hal ini disebabkan pertimbangan besarnya dana yang akan tersedot untuk biaya pakan tersebut. Seperti telah diketahui, ayam ras pedaging sangat peka terhadap perubahan kualitas pakan. Pemberian pakan dengan kualitas lebih rendah dari standar biasa menyebabkan laju pertumbuhannya terhambat, dan berujung pada pencapaian berat akhir yang lebih rendah dari perkiraan. Dalam hal ini yang perlu dilakukan adalah membandingkan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu kg berat badan ayam ras pedaging jika menggunakan pakan A (mahal), pakan B (sedang), atau pakan (murah). Artinya, jika untuk menghasilkan 1 kg berat badan ayam ras pedaging, pakan A biayanya Rp.2.000, pakan B Rp. 1.900, dan pakan C Rp. 2.100, sebaiknya pakan B yang dipilih.
 Pemberian pakan dengan kualitas yang lebih rendah dari standar bisa menyebabkan laju pertumbuhannya terhambat

Konversi pakan diartikan sebagai angka banding dari berat pakan yang dikonsumsi ayam dibagi dengan berat badab yang diperoleh. Angka konversi pakan tersebut merupakan salah satu criteria seleksi dalam perbaikan mutu genetic ayam ras pedaging yang masih terus dilakukan. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya pakan yang dikonsumsi ayam untuk memperoleh berat badan tertentu. Harga pakan merupakan salah satu hal yang harus dipertimbangkan. Sebagai contoh, konsumsi pakan A yang berharga Rp.2.500 per kg menghasilkan konversi pakan 1,8 dan konsumsi pakan B yang berharga Rp.2.000 menghasilkan konversi pakan 1,9. Peternak seharusnya memilih paka B meskipun konversi pakannya lebih tinggi, karena biaya yang dikeluarkan peternak untuk membeli pakan B lebih murah dibandingkan dengan pakan A. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :


jenis pakan harga/kg konversi pakan berat badan konsumsi pakan biaya pakan
pakan A pakan B Rp2.500 Rp2.000 1,8 kilo gr 1,9 kilo gr 1,6 kilo gram 1,6 kilo gram 2,88 kilo gr 3,04 kilo gr Rp7.200 Rp6.080

Dari tabel diatas diketahui bahwa untuk menghsilkan ayam ras pedaging dengan berat 1,6 kg, untuk pakan A dibutuhkan 2,88 kg dengan biaya Rp7.200 , sedangkan pakan B dibutuhkan 3,04 dengan biaya Rp6.080. Jika harga jual diasumsikan sama, pakan B jelas menghasilkan keuntungan yang lebih besar, karena biaya pakannya lebih murah.

Tips memperbaiki konversi pakan :
1.      Kandungan zat gizi dalam pakan berpengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan ayam ras pedaging. Tanpa mngesampingkan unsur  lainnya, seperti vitamin dan mineral, level energy protein harus diperhatikan dan disesuaikan dengan tahapan pertumbuhan ayam. Beberapa penelitian menganjurkan pemberian pakan 4-5 kali sehari secara rutin dan tanpa pembatasan termasuk pada malam hari.
2.      Air yang akan digunakan sebagai air minum sebaiknya tidak mengandung logam berat seperti Fe, Cu, dan Hg. Selain itu air harus bebas dari bakteri seperti E. coli. Jika air mengandung bakteri atau logam berat daya cerna serap zat makanan pada ayam akan menurun dan akibatya laju pertumbuhan akan menurun.
3.      Setiap periode pertumbuhan, ayam membutuhkan suhu yang semakin menurun. Pada masa-masa awal suhu terbaik adalah 32-33 C. Tetapi beberapa saat menjelang panen, ayam membutuhkan suhu kandang sekitar 20 C. Suhu kandang yang terlalu panas akan menyebabkan ayam lebih banyak minum dan mengurangi konsumsi pakan. Pada masa-masa awal pemeliharaan , penggunaan brooding (pemanas) sudah tidak bisa ditawar lagi. Penggunaan brooding bisa dihentikan jika ayam sudah berumur 3 minggu. Untuk menjaga suhu kandang berada pada kisaran normal dibutuhkan ventilasi yang cukup baik. Hal ini akan membantu mengeluarkan gas ammonia yang merupakan hasil metabolisme dalam tubuh ayam.

Setiap periode pertumbuhan
 ayam membutuhkan 
suhu kandang 
yang semakin menurun









Sumber : Abidin, Zainal. 2005. Meningkatkan Produktivitas Ayam Ras Pedaging. Depok. AgroMedia Pustaka