Sejak pertama kali dilaporkan tahun
1935, penemuan suatu strain ayam sebagai
cikal bakal ayam broiler (dikenal sebagai ayam ras pedaging ), agaknya sudah
menjadi tren yang saling mengungguli antar satu penemuan dan penamuan lainnya.
Penemuan-penemuan itu merupakan hasil penelitian bertahun-tahun dari para ahli
pemrmuliaan ternak dalam mencari dan
menggabungkan berbagai keunggulan dari beberapa jenis ayam, seperti ayam hutan
merah (galus galus, galus bankiva),
dan ayam hutan ceton (galus lavayetti), ayam hutan
abu-abu (galus soneratti), dan ayam
hutan hijau (galus varius, galus
javanicus), dengan perkawinan silang dan seleksi pada tahun 1945 ditemukan
strain ayam ras pedaging yang mampu mencapai berat 1 kg dalam waktu minggu.
![]() | ||||||
| Ayam hutan merah atau ayam jago (galus galus , galus bankiva) |
Agaknya trend sepuluh tahunan menjadi
catatan tersendiri bagi perkembangan strain ayam ras pedaging. Pada tahun 1955
ditemukan strain ayam baru yang berat badannya mencapai 1,27 kg. Penemuan ini
juga disertai dengan perbaikan konversi pakannya. Jika pada tahun 1945 konversi
pakannya 3,4 pada tahun 1955 menjadi 2,9, artinya untuk mencapai berat 1 kg
ayam membutuhkan pakan sebanyak 2,9 kg.
Pada tahun 1965 kembali dirillis ayam
ras pedaging yang mampu mencapai berat 1,72 kg. Sejak saat itu, berbagai
perusahaan pembibitan seolah-olah berlomba menciptakan strai baru, dengan
karakteristik cepatnya laju pertumbuhan dan membaiknya angka konversi pakan.
Dengan penemuan transplantasi gen diperkirakan penemuan berbagai strai ayam ras
pedaging dengan berbagai keunggulannya akan semakin cepat terwujud misalnya
dengan penemuan strain transgenik.
Perkembangan usaha peternakan ayam
ras Indonesia, baik pedaging maupun petelur telah mengalami 5 tahapan
perkembangan sebagai berikut :
1. Tahap
pengenalan (1950-1960), terjadi dengan adanya impor bibit ayam ras pedaging dan
petelur. Pada tahap ini impor dilakukan hanya dengan tujuan sebagai kegemaran
atau hobi.
2. Tahap
pengembangan (1960-1970) usaha peternakan ayam ras sudah mulai dimasyarakatkan
sebagai komoditas penggerak pembangunan dan diperkenalkan sebagai Pilot Proyek
Bimas Ayam (PPBA). Pada tahap ini pemeliharaan ayam ras sudah mulai
dilaksanakan dalam skala rumah tangga.
3. Tahap
pertumbuhan atau investasi (1970-1980) ditandai dengan mulai berkembangnya
iklim investasi di bidang usaha peternakan ayam ras pedaging dan petelur. Pada
tahap ini perkembangannya sudah mulai menyebar sejak industry hulu (pembibitan,
pabrik pakan ternak, dan obat-obatan), industry bududaya (pemeliharaan ayam ras
pedaging dan petelur), industry hilir (rumah pemotongan ayam, industry
pengolahan daging dan telur ayam), serta industry penunjang (asuransi,
perbankan, transportasi).
4. Tahap
penataan (1980-1990) ditandai dengan keluarnya Keppres No. 50/1981 yang
bertujuan mengatur skala usaha peternakan ayam ras. Sehingga tidak ada
pertentangan antara peternak skala kecil dan besar. Selain itu, Keppres ini
juga ditujukan untuk merestrukturisasi usaha dan stabilitas.
5. Tahap
ketangguhan (1990-sekarang) pengelolaan peternakan ayam ras pedaging dan
petelur sudah diarahkan sebagai suatu industry agribisnis terpadu dan
terintegrasi sejak hulu hingga ke hilir, termasuk pula sarana penunjangannya.
Dari sisi permintaan alam struktur
konsumsi daging nasional, dari tahun ke tahun peranan daging ayam ras tercatat
peningkatannya, dari 13% pada tahun 1970-an. Kemampuan daging ayam ras
menggeser daging ruminansia (besar dan kecil) memperlihatkan kecenderungan
pasar untuk lebih menyukai white meat daripada red meat. Ternyata penggeseran
ini pun terjadi di tingkat Internasional. USDA (United States Department of Agriculture) mencatat bahwa pada tahun
1985-1993 laju kkonsumsi white meat asal ayam ras meningkat 3,5% per tahhun.
Tantangan Usaha Budi Daya Ayam Ras
Pedaging yaitu meskipun potensi usaha sector budi daya ayam ras pedaging sangat
menarik, sejumlah tantangan bias jadi penghambat usaha yang bias mengubah
potensi keuntungan menjadi kerugian yang tidak kecil. Tantangan tersebut tidak
perlu membuat calon investor yang berkeinginan untuk berinvestasi di sector
budi daya ayam ras pedaging mengurungkan niat. Bahkan sebaliknya, menjadi
penuntun untuk mencari jalan pemecahan masalah. Beberapa tantangan dan hambatan
dalam usaha budi daya ayam ras pedaging sebagai berikut :
Ayam ras pedaging merupakan hasil berbagai
perkawinan silang dan seleksi yang sangat rumit diikuti dengan upaya perbaikan
manajemen pemeliharaan secara terus menerus. Akibatnya ayam ras pedaging bias
disebut sebagai ternak yang “cengeng”. Kesalahan atau kealfaan dari segi
manajemen peliharaan akan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Contohnya
ayam ras pedaging lebih mudah terserang penyakit sehingga upaya pencegahan
penyakit harus dilakukan secara teratur., dengan cara mengontrol kebersihan
lingkungan kandang, melakukan vaksinasi untuk enyakit tertentu, serta
memisahkan ayam yang terserang penyakit agar tidak menulari ayam lainnya.
Pemberian pakan dengan kualitas yang lebih rendah dari semestinya, terutama
saat pertumbuhan diperkirakan berada di titik maksimal, akan menyebabkan
penurunan laju pertumbuhan. Akibat selanjutnya berta akhir ayam ras pedaging
pada saat akan di jual lebih rendah dari yang diharapkan.
setelah mengetahui tantangan dan hambatan dalam beternak ayam ras pedaging
calon peternak diharapkan mampu mencari jalan keluarnya
Harga daging ayam ras Indonesia sangat fluktuatif.
Penyebabnya bermacam-macam terutama factor keseimbangan antara permintaan dan
penawaran. Biasanya menjelang Hari Raya Idul Fitri harga daging ayam ras mulai
merangkak naik pada minggu kedua bulan Ramadhan dan akan mencapai puncak pada
2-3 hari menjelang hari raya. Namun, beberapa tahun belakangan ini perkiraan
itu sering kali meleset akibat antisipasi yang keliru dari peternak. Misalnya,
dua bulan menjelang lebaran sesuai dengan tren yang berlaku para peternak mulai
memelihara ayam ras pedaging dengan harapan bias menjual ayam ras pedaging siap
potong pada hari-hari menjelang lebaran dengan harga tinggi. Namun karena
setiap peternak melakukan hal yang sama terjadi kelebihan penawaran di pasar.
Akibatnya, harga ayam ras pedaging siap potong yang diperkirakan mencapai titik
tertinggi ternyata malah turun Disamping itu perubahan harga ayam ras pedaging
siap potong pun kadang-kadang sangat cepat. Sebagai contoh pada tanggal 7
Januari 2001 harga ayam ras pedaging siap potong (berat diatas 1,6 kg) di
Jakarta Rp. 10.000 per kg, tetapi seminggu kemudian harganya turun menjadi Rp.
7.500 per kg atau penurunan harga sebesar 25%.
Sama halnya dengan ayam ras pedaging siap potong,
harga sarana produksi seperti DOC(day old
chick) atau ayam umur satu hari, pakan ternak, vaksin, dan obat-obatan juga
mengalami fluktuasi yang bermuara pada keseimbangan penawaran dan permintaan di
pasar. Terjadinya fluktuasi harga sarana produksi dan harga ayam ras pedaging
siap potong memungkinkan peternak memperoleh keuntungan sekaligus menderita
kerugian. Keuntungan yang tinggi akan diperoleh jika peternak memulai usahanya
saat harga sarana produksi sedang berada di titik terendah, tetapi peternak
bias menjual hasil usahanya saat harga sedang tinggi. Hal ini mungkin terjadi namun,
kemungkinan sebaliknya pun bisa terjadi.
Penggunaan harus disesuaikan dengan penyakit yang
diderita ayam dan dosisnya harus sesuai dengan aturan pemakaian
Umumnya petrenak mandiri memasarkan hasil usaha
petrnakannya ke pasar-pasar tradisional yang ada di sekitar tempat usahanya.
Hal ini tentu dengan alasan untuk menghemat biaya transportasi. Dalam kondisi
normal peternak tersebut akan mudah menjual ayam ras pedaging yang siap potong,
tetapi dalam kondisi penawaran lebih tinggi dari permintaan , peternak akan
mengalami kesulitan memasarkan produknya. Disinilah letak tidak adanya
kepastian waktu jual hasil usaha yang bisa mengakibatkan peternak menjual murah
ayam ras pedaging siap potong. Akibatnya peternak mengalami kerugian yang tidak
sedikit. Menunggu perbaikan harga juga tidak banyak menolong mengingat ayam ras
potong membutuhkan pakan lagi setiap harinya. Hal ini berarti pula adanya
pengeluaran ekstra.
Usaha budi daya ayam ras pedaging merupakan slah
satu usaha yang sudah sangat transparan sehingga margin keuntungannya sangat
tipis yakni berkisar 5-10% dari setiap siklus produksinya (sekitar 2 bulan).
Jika dilihat dari angka 5-10% mungkin masih lebih tinggi daripada bunga bank,
tetapi dengan berbagai resiko yang dihadapi margin tesebut sangat kecil,
terlebih lagi dibandingkan dengan ayam ras pedaging terserang ND yang bisa
menyebabkan kematian ayam sampai 100%. Peternak tidak bisa mendapatkan modalnya
kembali karena tidak ada yang bisa dijual.
Lebih dari separuh sarana produksi peternakan,
misalnya vaksin, obat-obatan, feed
supplement, bahan baku pakan (tepung ikan, jagung, atau bungkil kedelai)
merupakan produk impor sehhingga dari waktu ke waktu kebutuhan terhadap barang
ini semakin meningkat seiring dengan peningkatan produksi. Semakin dekatnya era
perdagangan global akan mempersulit posisi Indonesia karena ketrgantungan akan
produk impor masih sangat tinggi. Banayak produk perunggasan dari luar negeri
akan bebas masuk ke Indonesia tanpa bisa dicegak dengan pajak impor dan aneka
larangan lainnya.
Dengan memperhatikan berbagai
tantangan diatas, peternak pemula yang berkeinginan untuk terjun dalam usaha
peternakan yam ras pedaging dianjurkan untuk mengikuti program kemitraan. Dalam
program ini peternak kecil (disebut plasma) cukup menyediakan kandang beserta
peralatannya dan pekerja, sedangkan produksi ternak seperti bibit (DOC), pakan
ternak, vaksin, feed supplement, dan
obat obatan disediakan oleh mitra (disebut inti) yang biasanya merupakan
perusahaan besar. Di sisi lain plasma diwajibkan menjual hasil produksi ayam
ras pedagingnya kepada inti dengan harga yang sudah ditentukan. Berikut ini
table perbandingan antara mengikuti program kemitraan menjadi peternak mandiri
yang bisa dijadikan acuan atau bahan pertimbangan oleh para peternak pemula.
| Faktor pembanding | Program kemitraan | Peternak mandiri |
| Modal | Relatif sedikit karena peternak hanya menyediakan kandang, peralatan, dan tenaga kerja. Sedangkan sarana produksi peternakan (sapronak) ditanggung perusahaan inti | Relatif lebih besar karena kandang, peralatan, tenaga kerja, dan sapronak harus disediakan sendiri |
| Bantuan teknis | Diberikan perusahaan inti secara terencana | Tidak ada keterikatan untuk pemberian bantuan teknis, kecuali bertanya kepada technical service dari tempat produk yang dibeli peternak |
| Aturan/kontrak tertentu | Peternak terikat kontrak dengan perusahaan inti untuk menggunakan produk tertentu | Bebas menggunakan produk perusahaan manapun |
| Munculnya inovasi | Tidak diizinkan jika tidak sesuai dengan kontrak | Peternak bebas menerapkan dan mencoba inovasinya sendiri |
| Harga jual sapronak | Sudah diperhitungkan berdasarkan kontrak | Sepenuhnya berdasarkan mekanisme pasar |
| Harga jual produk | Sudah diperhitungkan berdasarkan kontrak | Sepenuhnya berdasarkan mekanisme pasar |
| Bonus | Ada perusahaan inti yang memberikan dengan nilai tertentu jika tercapai konversi pakan dan berat akhir yang lebih baik | Tidak ada bonus |
| Penjualan produk | Tanggung jawab perusahaan inti | Diusahakan sendiri |
| Margin usaha | Kecil, tetapi pasti karena seluruhnya sudah berdasarkan kontrak | Karena berdasarkan mekanisme pasar, keuntungan dan kerugian tidak bisa diprediksi |
| Resiko kerugian | Ditanggung bersama antara perusahaan inti dan plasma | Ditanggung sendiri |
Salah satu ilustrasi bagaimana
seorang peternak mandiri menjadi lebih sukses secara finansial sebagai berikut.
Pada tahun 1999 seorang peternak mampu memperoleh keuntungan bersih dari
pemeliharaan 5.000 ekor ayam ras pedaging (6 siklus per tahun) sebesar lebih
kurang Rp. 90.000.000. Pada saat dan kondisi yang sama, seorang peternak plasma
hanya mampu mengantungi keuntungan bersih dan bonus sebesar Rp. 21.000.000.
Padahal pada bulan Oktober 1999 harga ayam ras pedaging siap potong berada pada
titik terendah yakni Rp. 3.500 per kg berat hidup. Pada waktu itu peternak
mandiri mengalami kerugian sekitar Rp. 3.500 hingga Rp. 5.000 per ekor,
sedangkan peternak plasma masih bisa meraih keuntungan sebesar Rp. 700 – Rp.
1.200 per ekor.
Keuntungan
peternak mandiri bisa lebih besar karena diluar bulan Oktober 1999 harga ayam
ras pedaging siap potong cukup tinggi dan keuntungan yang bisa diraih mencapai
Rp. 6.000 per ekor, sedangkan keuntungan peternak plasma berada pada tingkat
stabil Rp. 700 – Rp. 1.200 per ekor. Di sisi lain, pada saat yang sama peternak
mandiri membutuhkan modal sekitar Rp.50.000.000 per siklus dan peternak plasma
hanya sekitar Rp.5.000.000 karena sebagian besar biaya produksi berasal dari
inti.
Komponen
biaya
|
Persentase
|
DOC
Pakan
Operasional
a.
Sewa kandang
b.
Gaji anak kandang
c.
Obat, vaksin, vitamin
d.
Alas kandang, pemanas
e.
Lain-lain
|
25-30%
50-70%
2-4%
2-4%
3-5%
2-4%
4%
|
Biaya terbesar dari usaha
peternakan ayam ras pedaging adalah biaya pakan, besarnya berkisar 60-70% dari
biaya produksi secara keseluruhan. Di pasar, beredar banyak merek paka ayam ras
pedaging yang didasarkan pada periode pertumbuhannya. Harganya pun sangat
bervariasi, salah satu pertimbangan peternak pemula dalam memilih pakan ternak
adalah harganya. Selisih sedikit saja, peternak bisa berganti merek. Hal ini
disebabkan pertimbangan besarnya dana yang akan tersedot untuk biaya pakan
tersebut. Seperti telah diketahui, ayam ras pedaging sangat peka terhadap
perubahan kualitas pakan. Pemberian pakan dengan kualitas lebih rendah dari
standar biasa menyebabkan laju pertumbuhannya terhambat, dan berujung pada
pencapaian berat akhir yang lebih rendah dari perkiraan. Dalam hal ini yang
perlu dilakukan adalah membandingkan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan
satu kg berat badan ayam ras pedaging jika menggunakan pakan A (mahal), pakan B
(sedang), atau pakan (murah). Artinya, jika untuk menghasilkan 1 kg berat badan
ayam ras pedaging, pakan A biayanya Rp.2.000, pakan B Rp. 1.900, dan pakan C
Rp. 2.100, sebaiknya pakan B yang dipilih.
Pemberian pakan dengan kualitas yang lebih rendah dari standar bisa menyebabkan laju pertumbuhannya terhambat
Konversi
pakan diartikan sebagai angka banding dari berat pakan yang dikonsumsi ayam
dibagi dengan berat badab yang diperoleh. Angka konversi pakan tersebut
merupakan salah satu criteria seleksi dalam perbaikan mutu genetic ayam ras
pedaging yang masih terus dilakukan. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya
pakan yang dikonsumsi ayam untuk memperoleh berat badan tertentu. Harga pakan
merupakan salah satu hal yang harus dipertimbangkan. Sebagai contoh, konsumsi
pakan A yang berharga Rp.2.500 per kg menghasilkan konversi pakan 1,8 dan
konsumsi pakan B yang berharga Rp.2.000 menghasilkan konversi pakan 1,9.
Peternak seharusnya memilih paka B meskipun konversi pakannya lebih tinggi,
karena biaya yang dikeluarkan peternak untuk membeli pakan B lebih murah dibandingkan
dengan pakan A. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
| jenis pakan | harga/kg | konversi pakan | berat badan | konsumsi pakan | biaya pakan |
| pakan A pakan B | Rp2.500 Rp2.000 | 1,8 kilo gr 1,9 kilo gr | 1,6 kilo gram 1,6 kilo gram | 2,88 kilo gr 3,04 kilo gr | Rp7.200 Rp6.080 |
Dari
tabel diatas diketahui bahwa untuk menghsilkan ayam ras pedaging dengan berat
1,6 kg, untuk pakan A dibutuhkan 2,88 kg dengan biaya Rp7.200 , sedangkan pakan
B dibutuhkan 3,04 dengan biaya Rp6.080. Jika harga jual diasumsikan sama, pakan
B jelas menghasilkan keuntungan yang lebih besar, karena biaya pakannya lebih
murah.
Tips
memperbaiki konversi pakan :
1. Kandungan
zat gizi dalam pakan berpengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan ayam ras
pedaging. Tanpa mngesampingkan unsur lainnya, seperti vitamin dan mineral, level
energy protein harus diperhatikan dan disesuaikan dengan tahapan pertumbuhan
ayam. Beberapa penelitian menganjurkan pemberian pakan 4-5 kali sehari secara
rutin dan tanpa pembatasan termasuk pada malam hari.
2. Air
yang akan digunakan sebagai air minum sebaiknya tidak mengandung logam berat
seperti Fe, Cu, dan Hg. Selain itu air harus bebas dari bakteri seperti E. coli. Jika air mengandung bakteri
atau logam berat daya cerna serap zat makanan pada ayam akan menurun dan
akibatya laju pertumbuhan akan menurun.
3. Setiap
periode pertumbuhan, ayam membutuhkan suhu yang semakin menurun. Pada masa-masa
awal suhu terbaik adalah 32-33 C. Tetapi beberapa saat menjelang panen, ayam
membutuhkan suhu kandang sekitar 20 C. Suhu kandang yang terlalu panas akan
menyebabkan ayam lebih banyak minum dan mengurangi konsumsi pakan. Pada
masa-masa awal pemeliharaan , penggunaan brooding
(pemanas) sudah tidak bisa ditawar lagi. Penggunaan brooding bisa dihentikan jika ayam sudah berumur 3 minggu. Untuk
menjaga suhu kandang berada pada kisaran normal dibutuhkan ventilasi yang cukup
baik. Hal ini akan membantu mengeluarkan gas ammonia yang merupakan hasil
metabolisme dalam tubuh ayam.
Setiap periode pertumbuhan
ayam membutuhkan
suhu kandang
yang semakin menurun
Sumber : Abidin,
Zainal. 2005. Meningkatkan Produktivitas Ayam Ras Pedaging. Depok.
AgroMedia Pustaka




